Alamat Kantor

Perum Pankis Griya - Rumah No.1

Jl. Pakis Raya, RT.01/06, Jepang Pakis,

Jati, Kudus, Jawa Tengah,

Indonesia - 59342

 

Staf Admin 1 - Dewi

082223338771 / 085712999771

bagianpemesanan@gmail.com Yahoo! Messenger

 

 

Staf Admin 2 - Fahri

082223338772

spiritualpower88@gmail.com

Yahoo! Messenger

 

Jam Kerja

Senin-Sabtu, pukul 08:00-16:00 WIB

Sebelum datang, telepon dulu.

 

Praktek Supranatural Resmi

Terdaftar di Dinas Kesehatan & Kejaksaan

STPT DINKES: 445/515/04.05/2012

KEJARI: B-18/0.3.18/DSP.5/12/2011

Lihat Bukti Legalitas - Klik Disini

 

 

 

Sunan Kalijaga dan Agama Islam

Dalam sejarah Islam di Indonesia dijelaskan, bahwa seorang pengembara berkebangsaan Tionghoa menulis tentang perjalanannya ke Asia Tenggara pada tahun 674 M. Orang ini mengatakan, bahwa di daerah barat pulau Harapan (Sumatera) telah dijumpai orang-orang yang bermukim di daerah tersebut kebanyakan adalah orang bangsa Arab.

 

Beberapa waktu kemudian ada seorang pengembara dari negeri Tenger bernama Ibn. Batutah (1304 - 1377 M), dalam perjalanannya ke berbagai negara, misalnya ke Saudi Arabia, Spanyol, Granada, Sudan, Mesir, Irak, Konstantinopel, India, Tiongkok yang dimulai sejak tahun 1325 M sampai 1354 M. Ibn. Batutah di antaranya singgah di Indonesia, yaitu di Samudera (Sumatera). Beliau mengatakan bahwa para Muballigh yang tersebar di Indonesia kebanyakan datang dari Hindustan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa banyak adat-istiadat atau kebiasaan kaum muslimin Indonesia coraknya sama dengan adat-istiadat atau kebiasaan kaum muslimin di Hindustan (Selatan) atau Gujarat dan Malabar. Di kedua tempat ini kaum mus­limin kebanyakan mengikuti aliran madzhab Syafi'i. Ini sama dengan kaum muslimin Indonesia yang juga kebanyak­an mengikuti madzhab Syafi'i. Dari bukti-bukti inilah maka para ahli sejarah berkesimpulan bahwa agama Islam telah datang ke Indonesia ini dibawa oleh para muballigh serta pedagang dari Gujarat dan Malabar, tidak langsung dari negeri Arab (Makkah Madinah) melainkan melalui Persia dan Gujarat (India bagian Selatan). Buktinya bahwa ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh para Muballigh yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan "Walisongo" atau "Wall Sembilan" itu tampak kedapatan adanya pengaruh dari negara-negara tersebut. Demikian pula terhadap kebudayaan yang hidup di tengah-tengah penduduk tanah Jawa tampak ada kesamaan dengan corak kebudayaan yang berkembang hidup di tengah-tengah masyarakat di negara-negara tersebut.

 

Pada saat rombongan para muballigh Islam yang terdiri dari kaum pedagang yang dipelopori oleh Syekh Maulana Maghribi atau lebih dikenal juga dengan sebutan "Syekh Maulana Malik Ibrahim" ke tanah Jawa, maka keadaan rakyat terutama kepercayaannya (akidahnya) masih sangat kuat dipengaruhi oleh kepercayaan, agama Hindu dan Budha, sehingga dengan melihat keadaan ini sangatlah tidak memungkinkan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, apalagi dengan cara atau jalan kekerasan atau paksaan.

 

Keadaan seperti itu menyebabkan para Walisongo mengambil kebijaksanaan untuk mengambil langkah menempuh jalan atau cara-cara menyesuaikan ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan yang selama ini dianut oleh rakyat, sehingga tidak menimbulkan bentrokan yang setiap saaat  mungkin saja terjadi.

 

Adapun cara-cara atau jalan yang ditempuh oleh para Wali dalam memasukkan ajaran Islam kepada rakyat di tanah Jawa antara lain ialah :

 

  1. Ajaran agama Islam itu diperkenalkan kepada rak­yat dengan cara memasukkan sedikit demi sedikit agar mereka tidak kaget atau tidak menolak. Dihindarkan cara-cara yang dapat menyinggung perasaan atau jiwa mereka yang sudah lama menganut kepercayaan-kepercayaan agama Hindu, Budha dan lainnya.
  2. Apabila memungkinkan ajaran-ajaran agama Islam itu dikawinkan dengan kepercayaan ajaran agama Hindu dan Budha, sehingga rakyat tidak terasa bahwa dirinya telah merubah kepercayaan lamanya dengan kepercayaan atau ajaran agama Islam.
  3. Adat-istiadat atau kebudayaan yang selama ini mereka hidupkan sesuai dengan ajaran agama Hin­du, Budha atau kepercayaan nenek moyang yang ditinggalkan kepada mereka, lalu oleh para Wali­songo adat-istiadat atau kebudayaan itu secara pelan-pelan diganti dengan bentuk upacara-upacara tradisional yang berbau ajaran Islam. Jadi para Walisongo tidak begitu saja memberantas adat-istiadat mereka dengan cara kasar yang dapat me­nimbulkan sikap antipati terhadap ajaran agama Islam.

 

Penyiaran dan perkembangan agama Islam di tanah Jawa ketika itu dipelopori oleh para Wali yang kemudian di kenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa dengan sebutan "Wali Sembilan" atau "Walisongo". Salah satu di antara Walisongo tersebut ialah "SUNAN KALIJAGA" yang makamnya ada di desa Kadilangu, Kabupaten Demak (Jawa Tengah).